Sunday, December 13, 2009

TEOLOGY’S DIARY: MAAF SALAH PENAFSIRAN…..



Jangan salah persepsi dulu ketika baca sekilas judul diatas, saya juga lagi ngak percaya kalo saya bisa menggunakan bahasa yang sedikit teologis dalam judul. (meskipun saya belajar dalam dunia teologi). Tapi yang pastinya ini bukan masalah seberapa besar saya sudah belajar menafsirkan akan setiap ayat-ayat dalam Alkitab, atau bahkan buku-buku teologis yang (ehem*) bermutu. Saya tahu, kalo orang teologis pasti sering di todong ayat-ayat Alkitab dalam setiap suasana (Jadi kayak kamus berjalan gitu dech). Saya aja kadang angkat tangan kalo sudah di Tanya,

“eh..ayat tentang si Zakeus dimana?”
“Ayat soal Nuh..di dearah mana?..…..”
“ayat tentang ini…”
“Kalo ini…”
“Trus……..”
Huhf!!! Saya bisa melongos dan nyengir trus bilang “I think you asking in wrong place hehhehe”. Tapi ya wez, ngak apa-apa dah anggapan orang kalo orang yang sekolah teologi pasti hapual (Hafal) semua isi dari kitab Suci (kan bisa dikira orang pintar hehhe). Well..sekarang kembali ke topic utama ide ini, yang jelas ini bukan masalah penafsiran atau apalah soal Alkitab buku teologi, tapi ini soal ke-lucuan seorang teman kelas ku yang buat ketawa para malaikat Teolog kelasku.

Tepat pagi ini ada ujuan mata kuliah Teologi Perjanjian Lama, dan kalo dilihat sang dosen rada lumayan killer disamping karena gaya dandanannya juga karena sok wibawanya, maklum lah namaya juga PENDETA. (oops!..kayaknya ngak suka). Ya…kalo di fikir-fikir saya juga rada-rada ngak suka dengan dosen yang balagu kayak bapak ini. Dan wal hasil, persiapan dari semalampun dirasa kurang meyakinkan. Sampai pada akhirnya teman ku (pangil saja namanya Prendy, eh,,,Frendy maksudnya) punya ide konyol buat nyontek.

“Aku ntar nyontek lho..” katanya.
“Gimana caranya bukanya si dosen lumayan he’em geblek ya.” Kataku.
“Tenang aja liat aja ntar.” Jawabnya sambil ketawa bangga.
Dan kini, ujian semester dimulai, dan emang kulihat si Frendy tenang-tenang aja ngak bereaksi gugup ato grogi. Saya sendiri heran, emang gimana dia nanti bisa nyontek lha wong tempat duduknya aja dipisah-pisah begini.

Sampai pada akhirnya, saya melihat dia mulai beraksi tapi, (bentar..) Lho dia kok buka Hand Phone segala ada apa gerengan. Kulihat dia mulai menekan tiap tombol pada Hand phone miliknya (Ngak mungkin Hand Phone saya khan..). setelah ia selasai menekan tiap tombol di HP itu, dia tersenyum gaya. Terlihat dia sepertinya menunggu balasan dari pesan singkat yang ia kirim entah kemana tujuannya. Kulihat dia mulai tidak tenang karena kelamaan (emang kelamaan sich wong sudah 20 menitan menunggu). Sampai pada akhirnya, saya melihat seorang teman berdiri di depan pintu.

Gubrak…….

Teman yang ada di depan pintu bilang dengan lantang begini.

“Maaf pulsa ku habis jadi ngak bisa ngirim jawaban.”

Seketika saya langsung menoleh ke arah Frendy, yang sudah lemah lunglai karena ngak percaya, CONTEKAN GAGAL, pikirnya (mungkin).

Sedangkan saya hanya cekikian ketawa melihat tingakh Frendy yang sudah kelimputan cari contekan. Nah…pelajaran penting buat hal ini adalah, seberapa besar kita berjuang untuk “NYOLONG atau NYONTEK” pasti ada aja halangannya ngak semulus kalo belajar sendiri. So don’t try to NYONTEK….!

sumber gambar: http://academic.cuesta.edu/acasupp/as/images/boystudy.gif

Christmas Greeting


"Ucapan Selamat Natal dari satu anggkatan 2006 kampus tercinta" dan selamat Natal buat teman-teman Ya..."

Tuesday, December 1, 2009

Nah……Ada Dagelan Di atas Mimbar!!!!!


Dalam sebuah kethoprak (ini bukan sejenis makanan, tapi drama tradisi jawa) biasanya menampilkan sebuah cerita adat atau pewayangan. Memang dapat dipastikan kalo kethoprak akan menampilkan suatu suguhan hiburan yang mengisahkan sejarah atau malah cerita kolosal, dan yang paling penting adalah adanya seorang pelawak (Dagelan, dalam bahasa jawa). Saya mempercayai orang-orang akan sangat tertarik dengan adanya dagelan dalam panggung, dan memang tidak banyak orang yang akan melewatkan munculnya pemeran dagelan tersebut.

Saya melihat sekarang ini banyak sekali acara TV yang banyak menampilakan lelucon-lelucon yang membuat orang tertawa, hal ini mungkin saja karena kebutuhan hiburan yang dapat mengurangi tingkat stress. Dan dari situlah kemungkinan cara berkotba pendeta pun terkena dampaknya, yaitu Kotbah dengan sedikit lelucon.

Saya tidak menghakimi bagi pendeta yang suka atau malah emang menjadi daya tariknya dalam berkotbah dengan lelucon atau guyonan. Ada kejadian yang membuat saya menjadi berfikir keras mengenai tingkah polah seorang pendeta diatas mimbar yang mengumbar lelucon dalam berkotbah. Entah kenapa, saya mulai berfikir, kenapa musti ada lelucon dalam berkotbah?. Bukankan berkotbah itu menyampaikan firman Allah? Dan hal itu sangat sacral?, saya sempat tidak begitu suka dengan cara berkotbah seperti ini, saya merasa ke agungan firman Tuhan tidak ada lagi karena lelucon konyol yang di lontarkan pendeta. Namun yang menjadi pemikira saya lagi adalah Kenapa jemaat malah suka atau malah tergila-gila dengan pendeta yang jago dalam membuat lelucon?, well, yang jelas saya tidak iri dengan pendeta yang jago dalam membuat lelucon, karena saya bukan tipe orang yang suka becanda dalam hal berkotbah (kadang-kadang sich heheh). Dan ada hal yang aneh lagi, masak jemaat pernah bilang begini, “Oh..iya saya ingat pak pendeta A (ngak perlu say sebut namanya) karena leluconnya yang enak dan lucu.” Dan ada lagi “ udah cari pendeta yang bisa melucu aja di mimbar biar ngak bosa.” Sumpah, saya jadi terheran-heran dengan pendapat seperti ini. Yang menjadi pemikiran adalah, apakah firman Tuhan yang di sampaikan masuk dalam hati mereka atau malah leluconya?. (who knows…and I don’t really understood).

Well, yang jelas saya yakin bahwa pendeta melakukan hal itu dengan alasan, sapa tahu dengan lelucon mereka diterima, sapa tahu dengan lelucon jemaat memahami firman Tuhan, dan sapa tahu ….(what’s else?...). dan untuk yang terakhir, selamat ber-dagelan ¬ria para pendeta yang luar bisa. !!!!!!

Dunia kecil dalam Asrama !!!!


Ini adalah kisah anak-anak yang super aneh dalam lingkungan yang aneh pula..(hehehhe)…yang pastinya ini terjadi di suatu sore yang sedikit dingin karena habis hujan. Genangan air masih menghiasi tanah tepat di depan ruang asrama kampus ku, air hujan yang masih menempel di dahan-dahan kadang kala menetes, dan semilir angin sore kadang kala menyapu kulit ku yang duduk tepat di depan salah satu kamar milik teman. Suasana yang mangasikan seperti ini katanya lebih enak di nikmati dengna kopi, teh hangat dan pisang goreng (ini usul salah satu teman ku sich). Tapi sayang karena keterbatasan dana, jadinya kita nikmati sore ini dengan makan angin dan obrolan ngak jelas (hehehehe), yang pastinya beginilah dunia asrama kampus ku sore ini.

Anak-anak asrama yang notabennya adalah anak-anak yang berjuang untuk sekolah dan belajar, mereka adalah orang-orang yang berasal dari tempat-tempat yang berbeda, beda budaya, beda latar belakang dan pastinya beda orang tua (Heh.  masak satu orang tua???). biasanya sore-sore begini anak-anak asrama bermain bola voli, dan seperti yang mereka lakukan sekarang, main bola voli sehabis hujan dengan telanjang dada, (ini kebiasan aneh, masak dingin-dingin begini telanjang dada). Yang jelas kini mereka asyik dengan dunia mereka yang aneh, sedangan kan saya, hanya duduk dan ngobrol ngak jelas ma sebagian anak yang ngak jelas juga (hehehhe).

Teman-teman, yang namanya hidup kost atau di asrama adalah hidup tanpa orang tua, (bukannya mereka dah mati) mereka harus berjuang untuk memenuhi kebituhan hidup dengan dana yang sangat limited dari orang tua mereka. Dan kejadian menyetuh dan membuat terharu, baru aja terjadi di asrama ini, ceritanya begini:

Salah satu teman yang kebetulan atau emang kebiasaan ngak masak kelaparan dan butuh makanan. Ia (ngak perlu saya kasih tau namanya) lagi berdiam diri dalam kamar dan menunggu pertolongan dari Tuhan (bahasa Teologi nich..), ya mungkin dengan merenung ia dapat hikmat kepada siapa ia harus minta makanan, dan tepat tidak berapa lama seorag malaikat datang padanya (maksudnya temannya nich) menawarkan makanan buatnya. “akhirnya ada berkatMu Tuhan, terimakasih.” Ujarnya dalam hati. Dan kini dengan penuh kenikmatan ia menikmati makan malamnya yang ia peroleh dari perenungannya dalam kamar.

Di lain pihak, di lapangan hijau, anak-anak aneh bin ajaib berubah dari main voly ke ngobrol di tengah lapangan. Yang pastinya kayanya akan ada konferensi meja bundar ke 2012 (iya pas kiamat datang,,kata di film-film sich). Saya yang mengamati dunia kecil di asrama ini malah jadi kaget, betapa saling membutuhkannya mereka, dari membutuhkan makanan, hiburan sampai kebutuhan yang lain (eitz....…jangan mikir yang aneh-aneh ya..mereka masih normal soalnya).

Bayankan dunia ini terjadi begitu simple seperti ini, pasti menyenangkan, tapi apa bener yang di katakan orang life Is simple?. Yang pastinya akan terjawab seberapa besar kalian bisa menikmati hidup kalian. OK Have a wonderful life to all of you!!.

TEOLOGY’S DIARY: Memenuhi Tuntutan Pasar…….



Pelayanan bukan sebuah barang yang bisa di perjual belikan pastinya, namun apa iya sepert itu sekarag. Yang ngak habis pikir, sekarang Pendeta seperti seorang produsen dan cara penyampaiannya adalah barang yang harus menuruti kebutuhan pasar.

Saya pernah bekunjung kesalah satu gereja yang sedang mengadakan Rapat untuk acara natal dan pas saat itu sedang membicarakan tentag siapa pengkotbahnya, dan sungguh mengagetkan aka apa yang di bicarakan. Sekilas perbincangan atau criteria yang jemaat harapkan utuk pengkotbah natal adalah:

  1. Good Looking. Saya kaget dengan criteria yang pertama ini, disamping ada unsur diskriminasi bagi pendeta yang “kurang good looking” (dalam hal ini face tentunya). Ya…emang sich..ini akan berpengaruh pada jemaat yang menikmati kotbah, masak menonton orang yang ngak amburadul. Ada benarnya memang hal ini, tapi coba dech..ngak selamanya kok…orang yang ngak good looking selalu tampil aneh, sapa tahu pas di minta kotba natal, ia tampil beda. (who knows, tapi kasih kesempatan dech, yang penting penyampaian dia pintar tho).
  2. Enak (Nah ini alasan yang saya sendiri kurang jelas, enak dari mana cobak..emang pendeta itu mau dimakan,,hehe). Ya ..katanya sich pokoknya..(ini nich kata yang paling bikin jengkel, “POKOKNYA”). …enak dalam segala hal, ya…enak dilihat, enak kotbah, enak di dengar dan enak di goda…(uey yeach di goda…..ini tambahan saja ngak masuk kategori). Sebenaranya kategori enak itu kan ALTERNATIF eh maaf RELATIF maksudnya. Belum tentu satu orang dengan yang lain sama merasa enak dengan salah satu pengkotbah. Ya tho…ya wes ah…yang penting itu dalam daftar criteria pendeta.
  3. Metereng. Ini saya ngak tahu apa hubungannya dengan kotbah ama apa yang dipakai oleh si pengkotbah. Ato jangan-jangan pengen di lihat kalo Gerejanya bisa ngundang seorang pendeta yang mewah dan kaya. Dan yang paling parah lagi, ada anggapan kalo gereja berani mengundan Pendeta yang tampail mewah (Mobil, laptop, ma apa aja yang kelihatan wah…) maka gereja akan membayar mahal si pendeta. Ya ngak mungkon donk…pendeta datang bawa mobil cuman di kasih 50 ribu (mau buat beli kacang anaknya aja ngak cukup..heheh).
  4. Lucu. Nah..ini criteria terpenting dari seorang pendeta, LUCU. Kalo pendeta ngak pintar melucu, wah bisa-bisa di jauhi ma jemaat. Pendeta di tuntunt untuk bisa membuat tertawa jemaat meskipun lelucon yang (maaf) ngak maksud dan terkesan di paksakan. But any way yang namanya gereja pastinya berbeda-beda, termasuk kebutuhan dalam hal pendeta.
And finally, saya hanya bingung dengan criteria yang semakin aneh yang di lontarkan oleh jemaat. Di lain pihak saya juga berfikir akan masa depan saya, sekarang sekolah Agama dan akan berakhir dengan Title S. Th, dan itu wajib jadi Pendeta (wait ngak wajib kok…kalo mau aja). Meliat criteria diatas kayaknya saya ngak bakalan dech bisa memenuhi semua tuch tuntutan jemaat yang (He’em) aneh. Well buat para calon pendeta, bersiaplah dari sekarang melihat semua tentutan jemaat yang semakin meningkat. Good luck guys……

Friday, November 27, 2009

TEOLOGY ‘S DIARY: The reason why….?



Mungkin setiap kali kita akan masuk ke Universitas atau dalam bahasa gaulnya “kuliah”, kita pasti di tuntut untuk mengambil fakultas yang kita harapkan atau inginkan –kadang kala di tuntut orang tua juga sich- tapi yang jelas kita WAJIB yang namanya kuliah di fakultas yang kita cintai. Sama halnya juga dengan memilih universitas atau Sekolah Tinggi macam apa yang kita mau jabanin, saya yakini kita memilih sesuai dengan selera kita, bukan karena paksaan atau malah diancam.

Dan al hasil, sekarang saya sudah masuk di tahun ke 3 di salah satu Sekolah Tinggi di daerah saya, dengan mengambil jurusan Theologi. Katanya sich jurusan ini adalah untuk para calon hamba Tuhan, alas Pendeta. Emang sich, kalo dipikir-pikir ngapain 4 tahun di bangku kuliah Theologia malah tidak jadi Pendeta. Tapi yang jelas semua orang punya hak asasi donk untuk mengatur masa depannya, termasuk mau jadi seorang Pendeta atau yang lainya, yang paling penting kan berguna bagi nusa dan bangsa ..

Sekarang di kampus tercintaku udah lumayan mahasiswa yang kuliah, kalo di hitung-hitung sekitar 50 anak yang terbagi menjadi Jurusan Theologia dan Pendidikan Agama. Sebenernya sama sich ntar dapat gelarnya, S. Th. Gelar yang mungkin akan buat orang memandang kita seperti orang kudus yang baru aja keluar dari pertapaan.- heheh-.

Dari sekian banyak teman-teman yang disebut orang farisi (ahli taurat dalam PL), mereka kebanyakan memiliki tujuan yang variatif dan Theologis tentunya (Percuma donk anak Theologi tapi ngak bisa memainkan kata-kata Theologis). Akan tetapi yang buat penasaran adalah apa mereka yakin dengan panggilanyan ini?- well lets see- (ini ngak maksud meremehakan lho ya ).

Ya wez lah, sekarang lihat beberapa alasan kenapa teman-teman ku mau masuk atau kuliah di jurusa Teologi:

1) Karena pengen dapat gelar: well yang pastinya di semua universitas atau Sekolah Tinggi ujung-ujungnya dapat gelar kali. Ngak cuman perguruan tinggi di tempat-temoat les juga pada akhirnya dapat yang namanya “IJASAH”. Ya di Indonesia kan semua di ukur seberapa bayak title yang tertulis dibelakang nama kita, kalo ngak ada title nya ya see you later…..

2) Masukan dari orang lain yang melihat kita cocok untuk masuk di sekolah Agama. Orang macam ini kemungkinan disuruh bunuh diri pun mau dia, masak kuliah aja harus mengikuti petuah orang lain. Tapi yang jelas, semua itu akan terlihat ketika sudah berjalan beberapa bulan di kampus, apa masih di dukung sama orang lain atau malah “SELAMAT BERJUANG”….

3) Ini yang paling banyak di ungkapkan oleh teman-temanku yaitu PANGGILAN TUHAN. Huhui….panggilan rek..kalo udah begini sumpah!! Saya ngak bisa ngomong lagi, lha gimana mau ngomong lha wong masalah panggilan itu kan masalah hati, antara dia dan si penguasa jagad, Tuhan. Paling kalo udah di bilang begitu saya langsung nyengir dan bilang “selamat terpanggil heheheh.”

4) Alasan yang terakhir adalah Pengen belajar aja soal Agama. Ini jawaban diplomatis dan elegan dan ngak jelas maksudnya. Kalo dipikir-pikir kayaknya jawaban orang kayak begini, kayaknya punya uang lebih, ngaco, dan ngak jelas mau ngapain, istilah kerennya go with the flow aja. Well emang semua harus begitu? (kadang-kadang).

Dan sekarang, kalau saya ditanya kenapa saya kuliah di Sekolah Agama, paling saya akan bilang “liat ntar dech sapa tau dapat jawaban di jalan hehehe.” Dan berharapnya sich, bagi teman-teman yang mau kuliah ataupun sekolah, cari dulu dech alasan yang tepat sebelum semuanya jadi sia-sia. Have a nice think.

Saturday, October 31, 2009

Break Down Your Comfort zone!!!


-naskah ini di muat di majalah sinode GITJ edisi I-

A. Look down their comfort zone.
Kebanyakan setiap kita merasakan aman dan nyaman ketika semua berjalan dengan mulus atau lancar, dan memang sudah bisa di pastikan manusia lebih suka tinggal di daerah aman yang di milikinya (the comfort zone). Namun apakah zona aman kita akan terus menjadi tembok penghalang ketika kita ingin maju?. Salah satu puisi yang berjudul “The past is the prolog” karya Wiliam Shakespears mengatakan:

“……. I believe that history is not equal to the future but it could be, if we don’t change and we don’t move from our comfort zone and start contributing the goodness….”

Dari penggalan puisi diatas, Shakspears berani mengatakan bahwa sudah di pastikan ketika orang menikmati zone aman secara terus menerus maka sejarah dan masa depannya akan sama. Satu hal yang dapat di lakukan untuk mengubah hidup adalah dengan berani keluar dari zona aman pribadi kita. Zona aman yang manjadikan kita manja dalam mengarungi hidup ini.
Sebagai sekilas pandang, di beberapa Gereja di Eropa mengalamami suatu stuck pada perkembangan imam umat Kristen. Bahkan ada beberapa Gereja yang di jadikan Musium karena mengalami kemunduran dalam jemaat, dan secara sekilas salah satu alasan ini terjadi adalah karena zona aman di rasa membosankan, orang lebih suka hal yang menantang tidak hanya monoton saja. Hal serupa juga terjadi di beberapa tempat yang sudah merasa nyaman dengan kehidupan mereka dan mengalami kebisanan dalam hidup. Maka dari itu kalau kita ingin merubah hidup kenapa tidak mencoba keluar dari zona aman kita?.

Dari cerita Alkitab, sudah terang-terangan mengatakan bahwa Yesus berani mengambil resiko keluar dari zona aman –Nya untuk datang ke dunia. Coba bayang kan sedainya Yesus tidak mau meninggal kan tahta kudus Nya di surga, maka sudah di pastikan kita tidak akan mengenal yang namanya Yesus. Namun satu terobosan besar dilakukanNya, Ia berani mengambil keputusan untuk keluar dari zona aman yang Ia miliki untuk terjun langsung ke dalam dunia dan pada akhiranya karya agung di lakukanNya, Penyaliban. Sebuah keputusan tragis dengan penuh pertimbangan dan keyakinan pengorbananNya itu akan menjadikan lebih baik bagi umat manusia, dan itu memang sudah terbukti. Melalui pengorbananNya umat manusia di selamatkan dan mengenang akan Sang Penebus itu.
B. That is your comfort zone?

Dalam kehidupan pribadi kita, kita pasti memiliki zona aman pribadi dimana kita merasa nyaman dan aman. Kenyaman yang mungkin akan membuat kita lengah dan terlena akan keadaan sekitar kita. Kebanyakan orang ketika sudah merasa nyaman maka ia akan mempertahakan rasa nyaman nya itu dan tidak melihat keadaan sekitar kita.
Beberapa waktu yang lalu saya pernah berbincang-bincang dengan seorang Hamba Tuhan mengenai pelayana misi, dan tidak sengaja yang menjadi alasan orang memilih menolak untuk ikut adalah karena sudah merasa nyaman dengan posisi, Kenyamanan, kekayaan dan kedudukan yang di peroleh. Secara singkat saya berfikir itu adalah ke-egoisan seseorang karena tidak berani ke luar dari zona aman yang ia rasa. Tidak salah memang ketika orang lebih suka menikmati ke-nyamanannya di banding harus keluar dan menderita hanya untuk menceritakan yang namanya Yesus di dearah pedalaman atau kepada meraka yang belum mengenal Yesus. Namun ketika kita melihat salah satu bagian dari Alkitab, khususnya Matius 28:19-20, jelas mengatakan

“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid Ku dan babtislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah keperintahkan kepada mu. Dan ketahuilah Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
Dalam bagian ayat ini secara gamblang Allah mengehendaki para muridNya untuk berani “pergi” dari tempat asalnya, tempat asal yang menjadi zona aman bagi mereka mereka. Demikan juga kita, sudah beranikah kita keluar dari zona aman yang kita agungkan selama ini untuk mengabarkan Injil Yesus?.

C. PELITA, Try to confront you to beat your Comfort zone.

PELITA (Present Evangelism Living Out Agape) adalah satu program dari Sinode GITJ bagi para pemuda yang ingin belajar melayani baik di dalam Gereja maupun di dalam bidang social. Oraganisasi yang menjadikan landasan kebersamaan ini mengarah kepada Pemuridan bagi kaum muda, membekali dengan pelayanan.

Berdiri di tahun 2005, yang merupakan tonggak sejarah di mulai nya babak baru di Sinode GITJ dalam hal pemuridan. Tahun pertama yang dengan yakin mengambil pelayanan di beberapa Gereja di Sumatra memperoleh sambutan yang luar biasa dari pemuda di sana. Dilanjutakan di tahun kedua mengambil pelayanan di Gereja-gereja Lokal dan membantu korban bencana gempa bumi di Jogjakarta. Di ikuti tahun ketiga PELITA bekerja sama dengan Organisasi The Frontiers untuk pelayanan perdamaian di Timor Leste dan Aceh. Bentuk-bentuk program yang secara jelas mengajak kaum muda untuk berani keluar dari zona aman yang mereka miliki dan belajar melihat saudara-saudara yang membutuhkan.
Ada benarnya memang apa yang di katakan Henri J. M. Nouwen dalam bukunya Gracias

“Pelayanan adalah ungkapan kehadiran Kristus di dalam dunia dalam pribadi kita”.

Dalam hal ini lah kita ditantang apakah kita berani untuk melayani meskipun itu keluar dari zona aman kita?. Pada bagian lain dari buku yang sama di katakan bahwa:

“…Oleh karena itu, saya berfikir bahwa bagi mereka yang di cabut dari lingkungan mereka yang aman dan di bawa masuk ke negeri asing di mana mereka merasa seperti bayi, Tuhan menawarkan kesempatan istimewa tidak hanya untuk pertobatan pribadi tetapi juga pelayanan yang sejati.”

Sekilas mungkin dapat di katakan, bahwa ketika kita berani keluar dari zona aman kita dan melangkah keluar untuk pelayanan maka Allah akan memberikan janjiNya kepada kita. Saya yakini dalam benak kita pasti terbesit ketakutan, Ketakukan akan tempat tinggal, ketakukan masa depan, kehidupan dan mungkin lebih parah lagi Nyawa. Saya pernah berfikir seperti ini sebelum saya terjun ambil pelayanan di Timor Leste selama satu tahun, namun semua itu menguap dengan penyertaan Tuhan di setiap langkah.
Saya yakini dalam lingkungan GITJ nama PELITA sudah tidak menjadi asing di telinga kita. Saya pernah bertemu dengan salah satu teman dan tidak sengaja kami berbicara mengenai PELITA. Saya masih begitu ingat dengan apa yang di katakannya.
“Kanggo opo tha..lungo adoh-adoh..engko dhak Gerejaku kosong” –buat apa sich.. pergi jauh-jauh ..nanti Gereja jadinya kosong-

Secara sepintas saya menyetujui akan pendapat teman saya ini, namun ketika saya berfikir “Bukankah lebih baik Gereja kita kosong namun kita melayani untuk mendapat kan jiwa baru untuk Tuhan dari pada duduk tenang dengan ke-EGOIS-an kita akan keslamatan.”

PELITA yang berani menantang setiap pemuda untuk keluar dari zona aman nya dan mengambil bagian dalam pelayanan adalah kesempatan untuk benar-benar belajar melayani dan melihat karya Tuhan di dalam hidup kita. Bukankah akan lebih bahagia ketika kita dapat menjadi pemain dari dapada hanya menjadi penonton saja. Mungkin dalam hati, kita merasa takut akan masa depan dan bagaimana tentang hidup, takut kalau Gereja kita akan kosong atau mungkin akan kehilangan nyawa sekalipun. namun yakinlah apa yang di katakan Yesus dalam Matius 28:20b “Dan ketahuilah Bahwa aku akan meyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”(FK)